Jejak Cinta

img20170104090645Ada banyak kisah cinta masyhur yang pernah terukir. Tak peduli kisah nyata yang melegenda maupun hanya sebuah dongeng, bila cinta yang menjadi ruh nya, selalu indah untuk disimak.

Taj Mahal, bangunan indah yang masuk dalam tujuh keajaiban dunia. Terletak di Agra, India, yang pembangunannya memakan waktu dua puluh dua tahun, merupakan persembahan cinta Kaisar Mughal, Shah Jahan untuk mendiang isterinya, Mumtaz Mahal, yang meninggal saat melahirkan anak mereka.

Dua puluh ribu pekerja dikerahkan, tak peduli berapa besar biaya digelontorkan Shah Jahan demi mengenang isterinya nan jelita. Mumtaz Mahal berarti The Jewel of Palace, permata istana. Sejak kematian isterinya, Shah Jahan, yang bernama asli Yudis Al Yusuf, berjanji tidak akan pernah menikah lagi.

Sangkuriang bahkan mencintai ibunya sendiri, Dayang Sumbi, yang terkenal berparas cantik dan tak menua. Dayang Sumbi baru menyadari bahwa lelaki yang mencintainya adalah puteranya sendiri setelah melihat luka di kening Sangkuriang akibat lemparan gayung Dayang Sumbi saat sang lelaki masih belia, lantaran Sangkuriang membunuh Tumang, anjing yang menjadi temannya berburu, yang sejatinya Ayahnya sendiri.

Lagi, cinta membuat orang rela melakukan apapun. Lebih sering mengalahkan logika, tak sanggup terbaca nalar. Hanya orang yang mencintai yang mampu memahaminya.

Begitu pula dengan Juliet, yang rela mati bersama kekasihnya Romeo karena cinta yang tak direstui. Kisah Romeo dan Juliet menginspirasi dunia, meskipun hanya sebuah cerita.

Namun, dari semua kisah cinta yang pernah ada, ada satu cinta yang teramat mengagumkan, salah satu cinta terbaik yang pernah terjadi dalam sejarah kehidupan manusia.

Bunda Sarah, merelakan Nabi Ibrahim alaihi salam untuk menikahi Siti Hajar, agar keluarga mereka memiliki keturunan untuk meneruskan risalah Allah.

Jangan berhenti disini, karena kisah keagungan cinta ini terus berlanjut.

Setelah melahirkan Ismail, putera kesayangan yang sangat dinanti kehadirannya. Ayahanda Ibrahim mendapat perintah dari.Allah untuk menyembelih putera kecintaannya itu.

Jika bukan karena cinta, tak kan sanggup Ibrahim menjalankan perintah ini. Tak kan ikhlas Ananda Ismail menerima keputusan Allah lewat Ayahnya, dan ibu mana yang rela anaknya dikorbankan.

Adalah cinta kepada pemilik cinta, cinta kepada yang menciptakan cinta, mampu mengalahkan cinta selain kepada Allah.

Semua godaan iblis tak digubris, Ibrahim, Hajar dan Ismail tetap teguh pendirian, untuk membuktikan cinta mereka kepada Allah. Inilah keagungan cinta, dari hamba kepada Al Khalik. Yang sanggup menggetarkan seluruh arasy, disaksikan para penghuni langit.

Inilah cinta manusia pilihan, karenanya Allah pun tersenyum seraya menggantikan Ismail dengan seekor hewan ternak. Cukup bagi Allah, tak meragukan cinta keluarga Ibrahim kepada-Nya.

Masya Allah, sanggupkah kita mengikuti jejak cinta ini? - Bayu Gawtama @bayugawtama

Terimakasih bila Anda berkenan membagikan tulisan ini kepada orang lain
  • Tweet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *