Uang Belanja Sudah Dihabiskan, Say?

Screenshot_20171019-081122_1Hari masih gelap sudah harus bangun, lebih dulu dari suami, anak-anak, bahkan lebih dulu dari ayam tetangga yang biasa kukuruyuk.

Jam tiga mungkin, sebelum subuh, sudah nongkrong manis di depan setrikaan menyiapkan seragam sekolah anak-anak yang benar-benar nggak kepegang semalam. Atau memang baru kering dini hari karena baru dicuci sore kemarin.

Eh ya, sebelum nongkrong manis di depan setrikaan, sempat nyalakan kompor masak air panas untuk mandi anak-anak. Sambil nyetrika, mulai teriak kecil, “nak, bangun sebentar lagi subuh…” kadang ditinggal sebentar, untuk bangunin ke kamar. Anak-anak bangun, balik lagi nongkrong manis. Multitasking kan.

Anak-anak mandi, air hangat sudah tersedia. Sang suami melenggang ke masjid bersama anak lelaki. Pulang dari masjid, kopi panas sudah tersaji.

Seragam beres, sepatu dan kaos kaki sudah siap. Usai sholat subuh, hinggap di dapur siapkan sarapan. Kadang beruntung bila sang suami ikut membantu. Sebagian ibu, mengerjakan sendiri.

Sambil masak, bolak-balik kamar anak-anak, membantu pasang kancing si kecil, merapikan kemeja si kakak, juga siapkan pakaian suami. Sempat juga ngecek tas dan buku pelajaran anak, jangan sampai salah bawa. Balik lagi ke dapur, telur dadar sudah siap diangkat, telat sedikit gosong. Benar-benar penuh perhitungan. Sudah paham kapan telur itu akan matang di wajan.

Jam enam pagi, suami sudah keren, anak-anak sudah rapi dan wangi, cuma dia seorang yang belum mandi. Biasa itu mah…

Sarapan tersaji, semua menyantap, sang ibu? Menyuapi si kecil. Beres sarapan, anak-anak berangkat bareng Ayahnya. Sebagian ibu kadang juga harus pula mengantar anak-anaknya ke sekolah. Sedikit beruntung kalau ojek online bisa diandalkan.

Selesai? Belum lah. Piring bekas sarapan jadi sasaran aksi berikutnya. Beres itu, melipir sedikit ke pakaian kotor, pilah-pilih kemudian masukkan ke mesin cuci, beruntung kalau punya, jadi bisa nyambi kerjaan lainnya seperti menyapu dan ngepel lantai. Kalau nggak punya, berarti lebih banyak waktu dan energi terkuras.

Sambil nyuci pakaian, kadang disela ke tukang sayur, belanja ini itu, lalu balik lagi, bilas dan jemur pakaian. Multi tasking dan multi talent kan?

Pakaian sudah dicuci, sudah dijemur. Lantai sudah bersih. Piring dan alat masak sudah kinclong. Bisa leha-leha dong? Eits, tarik napas sejenak, melirik tumpukan pakaian yang menunggu disetrika. Skip dulu.

Waktunya ke kamar anak-anak, beresin kamar, mainan. Bagi yang punya balita, kebayang lagi sibuknya bertambah. Bisa loh masak, nyuci sambil ngemong atau gendong anak. Belum nanti si baby rewel, pipis atau poop di celana, atau juga karena lapar, minta ASI.

Jelang siang, balik lagi ke dapur. Mumpung si baby tidur atau lagi anteng, masak untuk makan siang. Agar pulang sekolah nanti anak-anak tinggal makan.

Siang hari, nonton tv? Drama korea? Benar banget, tapi jangan dulu komplain. Karena drakor itu hanya hiburan di tengah-tengah segunung setrikaan. Sampai susah bedakan mana keringat mana air mata sedih nonton drama korea.

Pegel sudah pinggang, setrikaan baru separuh. Sisain buat besok lagi. Sore hari, sampai malam, akan banyak daftar antrian pekerjaan yang kadang bikin bingung mana dulu yang harus dikerjakan.

Ngangkatin jemuran, yang kadang pas siang hujan suka bikin panik para ibu. Memangnya ada suami yang ikut khawatir jemuran basah lagi saat hujan?

Beresin rumah saat si kecil tidur. Karena, selama si kecil melek, nggak bakal kelar-kelar kerjaan seorang ibu.

Usai mahhrib temani anak-anak belajar, sambil menunggu suami pulang. Begitu suami pulang, ya masih ada tugas lain menanti.

Anak-anak tidur, dia belum tidur. Anak-anak masih tidur, ibu sudah harus bangun.

Terus kapan santainya? Ada juga, disela-sela waktu semua aktifitas rumah tangga. Jangan senewen kalau whatsapp slow respon, telepon telat diangkat. Karena nggak selalu pegang hape.

Kapan belajar, kapan baca buku, kapan jalan-jalan. Jangan tanya. Para isteri menunggu kapan diajak suaminya pas hari libur, ya kan?

Suruh tukar peran jadi ibu? Satu hari saja belum tentu bisa. Karena kodratnya jelas berbeda. Masing-masing punya tugas, peran dan tanggung jawab. Jadi nggak perlu merasa kalau jadi Ayah itu lebih berat, lalu menganggap jadi ibu itu enak di rumah doang.

Maaf ini nggak berlaku bagi yang punya asisten rumah tangga. Nggak berlaku pula bagi para single parent, juga yang bekerja, kebayang pasti lebih kompleks keseruannya.

Terpenting dari semua itu adalah saling pengertian. Para isteri bahagia kok, kalau suami pulang peluk cium sambil bawain bakso kesukaan, lalu bertanya, “uang belanja kemarin sudah dihabiskan say?”

Walau kenyataannya, “kok uang belanja cepat habis sih?”

@bayugawtama

Terimakasih bila Anda berkenan membagikan tulisan ini kepada orang lain
  • Tweet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *