Anak-Anak Nggak Harus Tahu

Screenshot_20171017-080810_1_1Anak-anak mungkin selalu bertanya kenapa Ayahnya pulang larut malam, bahkan kadang nggak sempat pulang.

Anak-anak mungkin sering protes ketika Ayahnya sering tak punya waktu untuknya. Menemani belajar atau menyelesaikan PR dari sekolah, mengantar atau menjemput sekolah, melihat penampilan kreasi seni anaknya, atau sekadar bermain. Sedikit, hanya sedikit waktu yang bisa diberikan.

Tidak sedikit Ayah yang mengorbankan waktu bersama buah hatinya. Pergi pagi sebelum anak-anak terbangun, pulang larut malam setelah anak terlelap. Ia hanya bisa mengecup pipi mungil si kecil tengah malam, atau usai subuh sebelum beranjak pergi.

Mungkin sebagian anak lain beruntung memiliki Ayah yang punya waktu lebih banyak untuk mereka. Bisa mengimami sholat setiap subuh, maghrib dan isya misalnya. Mengajari baca quran atau pelajaran sekolah. Sarapan bersama anak-anak sambil mendengarkan cerita mereka di sekolah atau bersama temannya.

Tapi nasib kerap membedakan segalanya. Tidak semua Ayah beruntung punya waktu yang cukup untuk anaknya, tidak sedikit Ayah yang sebenarnya menangis lantaran tuntutan mencari nafkah memaksanya mengorbankan waktu bersama keluarga.

Bukan mereka tak paham arti pentingnya kehadiran Ayah bagi tumbuh kembang anak-anak, bukan karena sang Ayah tak paham betapa berartinya setiap detik bersama buah hatinya.

Ayah mana yang tak bahagia bisa melihat langkah pertama putranya, Ayah mana yang tak terharu melihat prestasi anaknya di sekolah, Ayah mana yang tak bangga bila bisa hadir pada momen-momen penting anaknya. Tapi, sebagian Ayah batinnya menangis tatkala terpaksa melewatkan segala momen indah itu.

Tanggungjawabnya mencari nafkah, peran pentingnya untuk memastikan anak-anak tetap bisa sekolah, tugasnya sebagai lelaki yang berjuang memenuhi semua kebutuhan keluarga, membuatnya harus mengorbankan waktu, melewatkan banyak kesempatan bersama keluarga.

Tidak semua anak mengerti apa yang dikerjakan orang tuanya sehingga tetap tersedia makanan di rumah. Tidak semua anak tahu seperih apa, seberapa banyak tetes keringat demi mengantarkan anaknya mendapatkan pendidikan yang baik.

Tidak banyak anak yang paham, menjadi apa Ayahnya di luar sana, apa peran Ayahnya, lakon apa yang dimainkannya demi mampu mengukir senyum keluarganya, demi bisa memenuhi setiap permintaan anak-anaknya. Ayah mana yang tak sedih jika tak bisa belikan mainan kesukaan anaknya?

Anak-anak memang tak harus tahu semuanya. Tak mesti tahu betul bahwa Ayahnya menjadi badut di jalanan, memetik gitar jual suara, menggali tanah di terik matahari yang menyengat, menantang maut di ketinggian, di tegangan listrik, di kobaran api, di tengah lautan luas, di lokasi tambang, di daerah konflik, juga di negara lain yang jauh dari rumah.

Tak harus tahu, meski suatu saat mereka akan mengerti dari mana asal darah dan daging yang tumbuh di tubuhnya. Dari mana biaya sekolah yang tak pernah telat dibayar, dari mana pakaian, sepatu, tas sekolah yang dipakainya, adalah dari keringat, darah dan bahkan maut yang ditantang sosok bernama Ayah.

Sebagian Ayah, pulang membawa cukup rejeki, sebagian tak membawa apapun kecuali sisa semangat untuk esok hari. Sebagian lagi menyerah kalah, sebagian lainnya bahkan tidak pernah kembali lagi.

Semoga kelak anak-anak mengerti. Ayah, seperti mentari, menghangatkan meski tak selalu nampak. Seperti udara, memberi kehidupan, setiap dihela selalu ada. @bayugawtama

Terimakasih bila Anda berkenan membagikan tulisan ini kepada orang lain
  • Tweet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *