Sepertinya Aku yang Rindu
Ada saatnya nanti, ketika kakimu melangkah lebih jauh, mengembara menuntut ilmu, atau menjalankan kewajibanmu atas keluargamu.
Saya itu aku akan menyadari, itu bukan kaki kecil yang dulu aku tatah saat belajar berjalan. Bukan lagi kaki mungil yang tak bosan-bosannya aku ciumi, aku kusel-kusel dengan hidungku.
Ada saatnya nanti, ketika pundakmu dibebani tanggungjawab yang besar, atas pekerjaanmu, atas segala cita-citamu, juga untuk semua mimpi orang-orang di hidupmu.
Saat itu aku sebenarnya tak ingin terjaga, pada kenyataan bahwa tanganmu bukan lagi tangan kecil yang kerap menggenggam erat tanganku saat gelisah, atau bahkan ketakutan. Bukan lagi jari-jari kecil yang serta merta mencari jemariku untuk dikaitkelindan saat kau kedinginan. Bukan pula lengan lemah yang kerap meminta bantuanku untuk mengangkat mainan atau buku-buku pelajaranmu.
Pundakmu tak selemah saat kecil dulu, bukan pundak kecil mengcangklong tas yang kerap kupandangi setiap kali kau memasuki gerbang sekolah.
Ada saatnya nanti, ketika kau hadapi sendiri setiap tantangan di depan mu. Ketika kau jalani sendiri setiap ujian hidupmu dengan gagah tanpa mengeluh. Ketika kau harus tegar tapaki setiap jalan terjal, berliku dan berkerikil.
Kala itu aku akan benar-benar menyadari, kau bukan lagi bocah kecil yang kerap berlindung dibalik tubuhku saat bahaya mengancam. Mata kecilmu sesekali mengintip, mempelajari bagaimana caraku hadapi tantangan.
Saat itu aku harus menyadari, kau bukan lagi bocah ingusan yang kadang menangis pulang setelah berkelahi dengan kawan mainmu. Bukan pula anak kecil yang minta digendong saat kakimu terlalu lelah berjalan, bukan si kecil yang mengaduh saat kakimu terantuk batu, atau oleh panasnya aspal.
Ada saatnya nanti, ketika kau menjawab sendiri setiap persoalan hidupmu, setiap permasalahan yang menerpa kehidupanmu dengan segenap kedewasaan yang menjadikanmu bertambah bijak, dengan setiap kematanganmu dari semua pengalaman yang kau lewati.
Pada akhirnya, aku menyadari bahwa setiap masa punya persoalan, dan setiap insan diberi ketangguhan menjawabnya, sesuai zamannya. Karena, kau bukan lagi anak kecil yang kadang minta didampingi saat mengerjakan tugas sekolahmu, bukan si kecilku yang dulu selalu bertanya saat kebingungan menyelesaikan tugas dari guru.
Dan saat masa itu tiba, aku benar-benar akan merindumu. Rindu menyiapkan makanan kesukaanmu, membuat susu tengah malam meredam tangismu, menyelimuti atau mendekapmu yang tengah mengigil, mengantar dan menjemputmu sekolah, membereskan buku pelajaran bekas belajarmu, merapikan mainanmu, mencuci bajumu, menyisiri rambutmu sambil memberi sedikit petuah singkat, menyuapimu makan, memakaikan sepatu sebelum berangkat sekolah.
Samakah rindu mu nanti Nak? Atau mungkin hanya aku yang rindu? Aku juga rindu suara kecilmu saat selalu bercerita apa saja, dan hati serta telingaku hanya untukmu.
Aku rindu lingkar lenganmu yang memelukku dari belakang saat kubonceng menembus dinginnya subuh, atau pegangan eratmu saat kita menuju sekolah. Setiap kali kau melambaikan tangan di depan gerbang sekolah, aku mengerti suatu hari kau benar-benar akan pergi.
Sama kah rindumu, Nak? @bayugawtama


