Cidera Budaya

FB_IMG_1429071887870Pernahkah Anda berpikir untuk menawarkan celana jeans atau kaos oblong berlogo Superman misalnya kepada orang Baduy dalam? Mungkin tidak. Karena Anda, atau kita semua menghargai budaya yang dipegang turun temurun oleh suku tersebut.

Sebagian orang merasa aneh melihat cara berpakaian orang Baduy, termasuk kebiasaannya tak mengenakan alas kaki. Bahkan bagi masyarakat Baduy yang memegang kuat budaya, berjalan ratusan kilometer rela dilakoninya ketimbang harus menciderai budaya sendiri.

Jangan coba-coba menertawakan orang Papua yang masih mengenakan koteka, tak ada yang berani melakukan itu, khususnya di depan mereka. Jangan pernah juga berpikir memberi saran agar orang Papua meluruskan rambutnya atau beranikah seseorang menawarkan krim pemutih kepada orang Papua?

Rambut keriting dan kulit hitam bagi sebagian saudara kita di Indonesia Timur, adalah karunia Tuhan pada makhluknya. Warisan alam yang juga berlaku pada orang China atau Korea dengan mata sipit dan warna kuning kulitnya. Juga rambut pirang serta kulit putih bagi sebagian lainnya di benua lain.

Lucu kan kalau orang Indonesia berdandan gaya Korea? Rambut hitam kemilau milik kita tentu tak elok ditukar dengan rambut bule. Ya kan?

Sama halnya dengan baju putih orang Baduy, koteka pun tak serta merta bisa kita protes sebagai bentuk ketidakmodernan atau anti kemajuan atau bahkan tak sejalan dengan semangat pembangunan.

Di Kalimantan, ada suku yang hidupnya diatas pohon, bahkan mereka berjalan dengan cara merambat atau melompat dari satu pohon ke pohon lain. Apakah kemudian kita perlu mengajari mereka berjalan seperti kita?

Kita. Ya kita kerap memandang sesuatu hal dengan kaca mata sendiri, melihat sesuatu dengan ukuran kita sendiri, padahal untuk urusan model rambut pun kita tidak bisa memaksa orang lain harus sama dengan gaya kita. Apalagi soal kehidupan dan cara hidup.

Ketika berkunjung ke Baduy, seorang teman berseloroh, “nggak kebayang deh gue hidup tanpa listrik, tanpa gadget, jauh dari Mall…”

Ya, baginya kehidupan yang baik adalah yang dekat Mall, setiap menit pegang gadget dan dikelilingi hotspot agar selalu bisa terkoneksi internet.

Tetapi bagi orang lain, masyarakat lain, kehadiran listrik atau segala bentuk kemodernan itu adalah bentuk pencideraan budaya dan pelanggaran kearifan lokal. Padahal bagi sebagian lain itu kemajuan, peradaban. Jelas bedanya, tidak bisa orang kota memaksa orang pedalaman mengikuti gaya hidup kota, seperti halnya orang pedalaman tak pernah iri dengan gaya hidup orang kota.

Orang gunung ya hidup seperti layaknya masyarakat yang hidup di gunung. Mereka bertani, mengajari anak cucunya hidup bercocok tanam serta menjalankan nilai-nilai serta budaya orang gunung. Begitu pula dengan orang pesisir, hidup mereka di tepi laut, mencari makan dengan melaut, seluruh keturunan mereka pun sangat akrab dengan asinnya laut juga dahsyatnya badai samudera.

Orang laut tidak perlu iri dengan orang gunung, tak perlu juga menganggap hidup mereka lebih baik dari orang gunung. Sebaliknya pun demikian, semua saling menghormati dan tak memaksa untuk menjadi seperti dirinya. Menghargai kehidupan dan budaya masing-masing dengan tidak berupaya mengubah cara hidup sesuai dengan yang menurutnya lebih baik.

Kalaupun orang gunung melihat laut tempat tinggal orang pesisir itu kotor, kumuh, yang perlu dilakukan hanyalah membantu membersihkan, menata, memperbaiki agar lebih enak dipandang. Bukan meminta orang pesisir naik ke gunung dan mulai menjalani hidup seperti orang gunung.

Sejarah manusia dibangun turun temurun dalam rentang waktu yang teramat panjang sejak nenek moyang mereka. Tak perlu memutus sejarah atau mengubah budaya seseorang atau sekelompok masyarakat hanya karena kita menganggap kehidupannya tak sesuai jaman, tak sejalan dengan pembangunan.

Tak mungkinkah pembangunan selaras dengan budaya? Semestinya pembangunan tak melukai sejarah kemanusiaan.

@bayugawtama

Terimakasih bila Anda berkenan membagikan tulisan ini kepada orang lain
  • Tweet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *