Itu kalimat yang keluar dari anak-anak, sekaligus ekspresi jijik di wajah mereka saat saya cerita tentang sikat gigi masa kecil dulu.
Waktu di Sekolah Dasar, ada pelajaran praktek sikat gigi yang baik dan benar. Semua siswa diminta membawa sikat gigi dari rumah, beserta odol dan gelas buat tempat air. Ibu guru sedikit terkejut melihat sikat gigi yang saya bawa, bentuknya sudah nggak karuan, semua bulunya tak satupun yang berdiri tegak, lebih mirip bunga yang sedang mekar. Akibat terlalu lama dipakai, saya pun sudah lupa sudah berapa bulan atau bahkan tahun sikat itu dipakai. Tentu saja jadi bahan tertawaan teman-teman.
Anak-anak juga tertawa, saat cerita tentang sepatu saya saat sekolah dulu. Sepatu merek warrior yang bagian kelilingkingnya bolong, jadi kalau pas nggak pakai kaos kaki pasti nongol itu kelingking dekil. Nggak cuma sebelah kanan, kompak kelingking kiri pun nggak mau kalah.
Mereka juga tertawa lagi, begitu dengar cerita kaos kaki Ayahnya saat sekolah dulu. Kadang pakai kadang nggak. Bukan lantaran nakal, tapi karena hanya punya satu untuk sepekan, itupun bolong bagian tumitnya. Jangan tanya soal aromanya, itu kaos kaki selalu jadi andalan untuk ngejahilin teman-teman di kelas.
Anak-anak bingung mau sedih atau tertawa, dengar kisah soal tas sekolah Ayahnya ini. Mereka nyaris nggak percaya kalau pernah beberapa tahun pakai tas bikinan sendiri dari karung goni. Kadang jebol bagian bawahnya, dijahit sendiri dengan jahitan yang super amburadul, asal rapat saja.
Tertawanya anak-anak nggak berhenti, kali ini cerita soal baju seragam Ayahnya saat sekolah dulu, bagian keteknya yang sobek. Dijahit, sobek lagi, jahit lagi sobek lagi. Ya begitulah, sama nasibnya dengan celana sekolah, bagian selangkangan yang penuh dengan jahitan. Resletingnya pun kadang rusak, entah itu jebol atau macet, bisa turun nggak bisa naik. Ya akhirnya, terpaksa baju dikeluarin.
Belum lagi soal buku sekolah, buku tulis, atau alat tulis. Pensil selama masih bisa dipegang, meski tinggal beberapa sentimeter ya tetap dipakai. Penghapus dari karet gelang mah sempat jadi tren, juga penggaris bikinan sendiri dari triplek, yang angka-angkanya ditulis sendiri. Keren kan?
Nah kalau yang satu ini, anak-anak sempat sedih, kalau Ayahnya dulu paling sering jadi langganan petugas tata usaha urusan telat bayaran sekolah. Lumayan terkenal lah, kalau ketua kelas sudah bikin pengumuman, “nama-nama yang disebut harap menghadap bagian tata usaha…” nggak usah menunggu disebut, si lelaki ini langsung ngeloyor pergi.
Terlebih kalau anak-anak dengar cerita soal tali rapiah sebagai ikat pinggang di hari pertama sang Ayah masuk SMP. Bisa mewek mereka. Ah sudahlah…
Kenapa semua cerita itu harus didengar oleh anak-anak?
Karena si Ayah ini berjanji, bahwa biar kepala jadi kaki, kaki jadi kepala, anak-anak nggak akan dan nggak saya izinkan untuk ikut merasakannya. Mereka hanya perlu mengambil pelajaran dari cerita masa sekolah Ayahnya, bahwa mereka harus bersyukur dengan kondisi yang mereka alami saat ini, meskipun kadang masih serba terbatas.
Anak-anak sekarang, bukan berarti tak boleh merasakan kesulitan seperti yang dirasakan Ayahnya di masa lalu. Tentu saja, bagus bagi mereka merasakan kesulitan demi kesulitan. Karena seseorang justru belajar dari kesulitan, bukan dari kemudahan. Hanya saja, kesulitan mereka di masa sekarang, akan berbeda dengan kesulitan Ayahnya di masa lalu. Beda jaman, beda tantangan.
Si Ayah, berjanji untuk memenuhi semua kebutuhan anak-anaknya, termasuk soal pendidikan. Janji yang meskipun tanpa kait kelingking, namun akan diperjuangkan sepenuhnya. Anak-anak pun berjanji, untuk belajar sungguh-sungguh, karena menurut mereka, hanya itu cara mereka bisa menebus semua janji Ayah. @bayugawtama



