Dua puluhan tahun lalu, pernah satu kali saya merasa malu, lantaran tak sengaja kentut saat sedang memimpin rapat organisasi. Kalau hanya aromanya saja yang keluar mungkin sedikit bukan masalah bagi saya, walau tetap jadi masalah bagi yang lain.
Tapi saat itu, suara “prett” ikut keluar bersama semangat saya memberi arahan. Nggak sopan sekali si kentut itu keluar, eh masuk ruang rapat tanpa permisi. Tentu saja saya kaget bercampur malu, karena peserta rapat bukan hanya lelaki, tetapi juga perempuan.
Tapi apa yang terjadi? Ini yang saya salutkan dari sahabat-sahabat seperjuangan kala itu, saya tahu persis mereka mendengar suara aneh yang bukan keluar dari mulut saya, tetapi mereka berpura-pura tak mendengarnya, bahkan seorang perempuan seperti mencoba mengalihkan pandangan seluruh peserta untuk sejenak tak memandang saya, tetapi berpaling ke arahnya, dengan caranya, “hey, begini teman-teman, dengarkan saya…”
Tak satupun yang cekikikan, atau bahkan tak satupun yang membahas perihal “kentut” itu selepas rapat. Saya kira ini sikap terbaik dari sahabat-sahabat kala itu. Mereka menjaga agar saya tak merasa malu, menjaga harga diri saya, sebagai pimpinan rapat, pimpinan organisasi, terlebih lagi sebagai sahabat, bahkan saudara.
Berbeda dengan pengalaman yang lain. Kali ini bukan saya yang kentut, seorang siswa SMA duduk di pintu angkot. Di dalam angkot, selain saya, ada tiga siswi cantik dan seorang bapak paruh baya yang duduk persis di depan siswa tadi.
Entahlah, mungkin karena duduk dekat pintu, tiba-tiba terdengar suara kentut, “prett” hampir sama lah dengan yang pernah saya keluarkan dulu.
Saya tetap diam, tak terpengaruh. Begitu juga ketiga siswi, tetap asik ngobrol seolah tak mendengar. Tapi mungkin karena ia merasa malu, ia mencoba mengkamuflase kentut tadi dengan suara mulutnya, beberapa kali dengan mulutnya ia mengeluarkan suara yang coba dibuat mirip sama kentut tadi, “pret” “pret” “pret”
Tiba-tiba, bapak yang duduk di depan siswa itu buka suara,
“Sudah lah dik, itu mah beda sama yang tadi…”
Meledaklah tawa ketiga siswi yang sedari tadi cuek dan asik ngobrol. Siswa yang kentut tadi segera mengetuk atap angkot, ia pun turun. Merah malu wajahnya.
Kasihan, kasihan sekali. Ia mencoba menutup aibnya, tetapi justru orang lain menelanjanginya.
Kenyataannya memang demikian, setiap kita punya aib dan berupaya untuk menutupnya rapat-rapat. Sayang disayang, ada sebagian orang yang senang membuka aib saudaranya. Kadang itu teman sendiri, rekan kerja, bahkan (yang sebelumnya) sahabat.
Maaf, ini cuma soal kentut. Nggak penting mungkin. Hanya sebuah catatan untuk diri sendiri @bayugawtama


