Kagak Pake Mikir

ilustrasi foto: metronews

ilustrasi foto: metronews

Selepas maghrib dan mengisi bensin di KM 125 arah Bandung menuju Jakarta, baru saja keluar rest area, seorang perempuan mengenakan jilbab berusia hampir tiga puluh tahun melambaikan tangannya ke arah mobil. Mungkin ia mau menumpang ke arah Jakarta? Saya tepikan kendaraan persis di depannya. Buka kaca jendela, “Mau ke Jakarta mbak?”

“Oh tidak pak, saya tadi salah naik kendaraan. Saya mau ke Jatinangor, saya harus balik lagi ke arah Bandung. Bisakah Bapak membantu saya sedikit untuk ongkos?” ungkapnya. Kemudian, isteri saya memberinya sejumlah uang, ia tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Kami pun kembali memacu kendaraan.

Saat menepikan kendaraan, hanya satu yang terpikir oleh saya, “Orang ini perlu bantuan” Sudah, itu saja. Tidak ada pikiran lain. Saya teringat pesan seorang sahabat, “kalau mau tolong orang ya tolong saja, nggak usah banyak mikir”

Tak ada pikiran, “ini orang bohong nggak ya?” “Dia penipu bukan ya?” “ngapain jam segitu di luar rest area?” “Apa benar dia salah naik kendaraan?” Juga berbagai kemungkinan lainnya, “bagaimana kalau perempuan itu punya rencana jahat?” “siapa tahu ada sejumlah orang yang bersembunyi karena memang lokasinya berdiri sangat gelap” daaaan… banyak pikiran negatif lainnya.

Nggak tuh, semua pikiran aneh itu nggak muncul sama sekali saat saya menepikan kendaraan. Saya selalu percaya, skenario Allah terus bermain dalam kehidupan kita. Bahwa kita jadi perantara pertolongan Allah bagi hamba-Nya yang tengah membutuhkan, maka kita hanya perlu menjalani sebaik-baiknya.

Jika pun misalnya perempuan itu berbohong atau menipu, itu bukan urusan saya. Itu urusan dia dengan Allah. Atau bahkan jika terjadi hal yang tidak diinginkan seperti tindakan kriminal terhadap saya, ini soal keyakinan, bahwa semua terjadi atas kehendak Allah. Serahkan saja pada-Nya. Soal kewaspadaan, memang sudah jadi kebiasaan saya.

Kemudian benak saya didominasi oleh senyum kelegaan perempuan itu, oleh bayangan anak-anaknya yang tengah menunggu ibunya pulang, atau suaminya yang sedang gelisah karena isterinya belum kembali. Sampai tiba di rumah, saya kembali teringat pesan sahabat, “Kalau bisa bantu, kagak usah pake mikir, bantu ya bantu… Terlalu banyak mikir malah nggak jadi bantu”

28/01/2016
@bayugawtama

Terimakasih bila Anda berkenan membagikan tulisan ini kepada orang lain
  • Tweet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *